Kabupaten Bekasi – Memasuki awal November, intensitas hujan yang tinggi kembali menguji kesiapsiagaan berbagai wilayah di Kabupaten Bekasi. Sejumlah daerah kembali dilanda banjir akibat curah hujan tinggi dan tanggul jebol di aliran Kali Cikarang.
Menanggapi kondisi tersebut, Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Bekasi bergerak cepat. Melalui posko penanggulangan bencana, PMI menerima laporan banjir dari beberapa titik pada Sabtu (1/11/2025), di antaranya Kampung Pulo, Desa Sukarkarya, Kecamatan Karang Bahagia; Kavling An-Nur, Cikarang Jati, Kecamatan Cibitung; serta Perumahan Bagasasi, Desa Suka Rukun, Kecamatan Sukatani.
Tanpa menunggu lama, tim PMI Kabupaten Bekasi langsung menurunkan anggota staf penanggulangan bencana, tim logistik, serta relawan ke lokasi. Dua unit perahu karet dikerahkan untuk mengevakuasi warga dari rumah yang terendam air setinggi 50 hingga 80 sentimeter.
Evakuasi Hingga Larut Malam
Proses evakuasi dilakukan hingga malam hari dengan segala keterbatasan di lapangan. Minimnya penerangan tidak menyurutkan semangat para relawan. Dengan hanya mengandalkan lampu kepala dan perahu karet, mereka menjemput warga satu per satu menuju lokasi aman dan tempat penampungan sementara.
“Proses evakuasi kami lakukan sampai malam hari. Kondisi air naik cepat, jadi prioritas kami adalah keselamatan warga, terutama anak-anak dan lansia,” ujar Leman, staf Bidang Penanggulangan Bencana PMI Kabupaten Bekasi.
Ia menambahkan, setelah proses evakuasi, PMI segera melakukan assesment kebutuhan warga di lokasi pengungsian. “Sesuai arahan pimpinan, kami segera berkoordinasi dengan bagian logistik di bawah pimpinan Pak Nasrullah untuk memastikan bantuan yang dibutuhkan warga bisa segera didistribusikan,” jelasnya.
Kesiapsiagaan Sepanjang Musim Hujan
Ketua PMI Kabupaten Bekasi Drs. H. Akhmad Kosasih, menyampaikan bahwa pihaknya sudah menyiagakan personel dan perlengkapan sejak awal November, mengingat Kabupaten Bekasi termasuk wilayah rawan banjir.
“Setiap laporan dari masyarakat kami respon cepat. Relawan kami sudah siap 24 jam, terutama di wilayah yang berpotensi tinggi seperti Cibitung, Karang Bahagia, dan Sukatani,” ungkapnya.
PMI Kabupaten Bekasi juga terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah, BPBD, serta masyarakat di tingkat desa agar penanganan bencana bisa lebih cepat, terarah, dan efisien.
“Kami tidak hanya mengevakuasi, tetapi juga mendampingi warga di pos pengungsian, memberikan pertolongan pertama, hingga membantu kebutuhan logistik dasar seperti makanan, air bersih, dan selimut,” tambahnya.
Kemanusiaan Tanpa Sekat
Di tengah malam yang gelap dan hujan yang tak henti, semangat para relawan PMI tetap menyala. Di antara deru air dan dinginnya udara, mereka menembus banjir untuk memastikan tak ada satu pun warga yang tertinggal.
Satu per satu warga diangkut menuju tempat aman, sebagian anak-anak digendong, sebagian lansia digandeng dengan hati-hati. “Ini tugas kemanusiaan. Kami hanya ingin memastikan semuanya selamat,” tutur salah satu relawan muda PMI dengan mata sembab karena lelah.
Kini, pasca-evakuasi, PMI Kabupaten Bekasi terus memantau situasi dan tetap siaga menghadapi potensi bencana susulan. “Musim penghujan baru dimulai. Kami akan terus siaga dan berkoordinasi untuk memastikan masyarakat Kabupaten Bekasi aman dan tertangani,” tutup Leman.
Gerak cepat PMI Kabupaten Bekasi dalam menangani banjir bukan hanya wujud tanggung jawab, tetapi juga bukti nyata bahwa semangat kemanusiaan tetap menyala di tengah keterbatasan. Di saat air meninggi dan malam semakin gelap, PMI hadir bukan hanya membawa perahu—tapi juga harapan.(CS)









