Patriot Palapa, Kota Bekasi – Forum reses kerap disebut sebagai jembatan antara rakyat dan kekuasaan. Namun di banyak tempat, ia tak jarang berubah sekadar seremoni dengar–catat–lupa. Di tengah skeptisisme itulah, kegiatan reses yang digelar Ketua Komisi II DPRD Kota Bekasi, Latu Har Hary dari Partai Keadilan Sejahtera menghadirkan warna berbeda: suara anak muda menjadi panggung utama.
Menariknya, pertemuan itu berlangsung di Warkop Oyot – Jl. Buana Raya—sebuah warung kopi di pinggir jalan yang akrab sebagai ruang nongkrong anak muda, Jum’at(13/02.2026). Dengan jajanan variatif dan harga terjangkau, tempat itu menjadi simbol sederhana: aspirasi besar sering lahir dari ruang-ruang kecil yang akrab dengan keseharian warga.
Hadir dalam forum itu tokoh masyarakat Heri Koswara M.A —akrab disapa Bang Heri—yang menyuarakan kegelisahan generasi muda di Kota Bekasi. Ia menyoroti minimnya ruang aktualisasi bagi pemuda, mulai dari peluang kerja hingga dukungan anggaran bagi organisasi kepemudaan.
Menurut tokoh PKS Jawa Barat ini, generasi muda bukan sekadar objek pembangunan, melainkan subjek yang harus disiapkan sejak hari ini.
“Mereka calon pemimpin masa depan. Tapi bagaimana bisa siap, kalau ruang kontribusinya sempit?” sindirnya.
Sorotan tajam diarahkan pada nasib Karang Taruna yang disebut berjalan dengan napas sendiri—tanpa dukungan anggaran memadai. Dari tingkat kota hingga kelurahan, roda organisasi lebih banyak digerakkan oleh swadaya daripada kebijakan. Realitas ini menjadi ironi di kota yang gencar membangun fisik namun kerap abai pada pembangunan manusianya.
Di sisi lain, Latu Har Hary menangkap pesan itu sebagai tantangan politik. Ia menyatakan komitmen untuk memperjuangkan penguatan peran pemuda bersama rekan-rekannya di DPRD Kota Bekasi. Janji yang tentu akan diingat publik—sebab bagi anak muda, harapan bukan sekadar kata-kata, melainkan peluang nyata.
Reses kali ini memperlihatkan satu hal: anak muda Bekasi tidak kekurangan suara. Yang mereka tunggu adalah keberanian pengambil kebijakan untuk benar-benar mendengar.
Karena sejarah kota tidak dibangun oleh baliho dan spanduk politik, melainkan oleh generasi yang diberi ruang untuk tumbuh—bahkan jika gagasan itu lahir dari meja warkop di tepi jalan.
(DM)









