Patriot Palapa News, Kota Bekasi — Lapangan Multiguna bukan sekadar ruang terbuka. Di tangan komunitas Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ), tempat itu menjelma menjadi simpul pertemuan lintas kota—ruang singgah, ruang berkarya, sekaligus ruang persaudaraan yang hidup.
Pasca peringatan Hari Ulang Tahun ke-44 KPJ di Gelanggang Remaja Bulungan, Jakarta, arus silaturahmi mengalir ke Bekasi. Sejumlah perwakilan KPJ dari berbagai daerah—Balikpapan, Sulawesi Selatan, Makassar, hingga Surabaya—menyambangi markas KPJ Kota Bekasi, membawa satu hal yang sama: semangat kebersamaan, Selasa(5/05-2026).
Ketua KPJ Kota Bekasi, Remon Bitti, menyambut kunjungan itu dengan penuh hangat. Baginya, kehadiran saudara-saudara KPJ dari berbagai daerah bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan penegasan bahwa ruang jalanan tetap hidup sebagai ruang budaya.
“Ruang ini memang kami niatkan untuk siapa saja. Tempat singgah, tempat beristirahat, sekaligus tempat berkarya. Dan hari ini terbukti, saudara-saudara dari berbagai daerah bisa merasakan itu,” ujar Remon.
Apresiasi pun mengalir dari para tamu. Erwin Jordan, Ketua KPJ Sulawesi Selatan, secara terbuka menyampaikan terima kasih atas sambutan hangat yang diberikan KPJ Bekasi, sekaligus penghargaan kepada Pemerintah Kota Bekasi yang dinilai telah memberi ruang bagi seniman jalanan untuk berekspresi.
“Kami sangat berterima kasih. Ini bukan sekadar jamuan, tapi bentuk penghargaan terhadap kreativitas. Bekasi sudah memberi ruang bagi kami untuk tetap berkarya dan bersuara,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Awam dari KPJ Balikpapan. Ia bahkan mengundang balik KPJ Bekasi untuk datang ke Kalimantan sebagai bentuk balasan atas hangatnya persaudaraan yang terjalin.
“Kami tunggu di Balikpapan. Kapan pun datang, kami siap menyambut. Ini bukan sekadar kunjungan, tapi ikatan keluarga,” ucapnya.
Dari Makassar, Daeng Rengga juga menegaskan pentingnya dukungan pemerintah daerah terhadap komunitas jalanan. Ia menilai, ruang yang diberikan Pemkot Bekasi menjadi contoh bahwa seni jalanan bisa tumbuh dalam ekosistem yang sehat dan positif.
“Kalau ruang ini terus dijaga, bukan hanya komunitas yang tumbuh, tapi kota juga mendapat keberkahan dari karya-karya yang lahir,” katanya.
Momentum pertemuan ini tak lepas dari perayaan HUT ke-44 KPJ Indonesia yang mengusung tema “Omong Kosong”—sebuah refleksi kritis yang justru melahirkan konsolidasi nyata. Bagi KPJ, pertemuan bukan sekadar seremoni, melainkan ruang bertukar gagasan, pengalaman, hingga arah perjuangan.
Dalam semangat itu, pesan legendaris dari Anto Baret kembali digaungkan: “Pertemuan adalah Kabar.” Sebuah kalimat sederhana, namun sarat makna—bahwa setiap perjumpaan adalah cara komunitas menjaga denyutnya tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Di Bekasi, makna itu terasa nyata. Dari obrolan sederhana, tawa kebersamaan, hingga rencana-rencana kolaborasi ke depan—semuanya mengalir tanpa sekat.
Lapangan Multiguna pun kembali membuktikan dirinya: bukan hanya ruang fisik, tapi ruang hidup. Tempat di mana jalanan tidak sekadar dilalui—melainkan dirayakan, dihidupkan, dan diperjuangkan bersama.
(MDS)









