Oloan Nababan Serap Aspirasi Warga Pengasinan, Banjir Jadi Persoalan Utama

- Jurnalis

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 19:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

“Sebab, bagi warga yang tinggal di kawasan rawan banjir, persoalan bukan hanya ketika air datang, melainkan juga berapa lama mereka harus bertahan dalam genangan. Air yang terlambat surut dapat mengganggu aktivitas, membatasi mobilitas, dan menambah beban kehidupan keluarga,” –Oloan Nababan S.E., Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kota Bekasi-

 

Patriot Palapa News, Kota Bekasi – Banjir masih menjadi persoalan yang berulang dan belum sepenuhnya menemukan jalan keluar bagi warga Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi. Setiap kali hujan datang dan air meluap, masyarakat kembali dihadapkan pada kecemasan yang sama: genangan yang menghambat aktivitas, merendam lingkungan, serta menguji ketahanan warga dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Persoalan itu kembali mengemuka dalam kegiatan Reses III DPRD Kota Bekasi yang dilaksanakan Oloan Nababan, S.E., di RW 24, Kelurahan Pengasinan, Kecamatan Rawalumbu, Sabtu (10/10/2026). Kegiatan yang dihadiri ratusan peserta, didominasi kaum perempuan, tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi sekaligus mengungkapkan persoalan nyata yang mereka hadapi di lingkungan tempat tinggal.

Dalam wawancara di sela kegiatan, Oloan mengungkapkan bahwa banjir merupakan aspirasi yang paling sering muncul dalam setiap agenda resesnya di daerah pemilihan (Dapil) III. Selain banjir, warga juga menyampaikan kebutuhan perbaikan jalan, penerangan jalan umum (PJU), serta persoalan infrastruktur lingkungan lainnya.

Baca Juga :  Pengajian Bulanan DKM Al-Qalam Angkat Tema Kemuliaan Tugas Wartawan

Menurutnya, penanganan banjir tidak dapat dilakukan secara instan. Kompleksitas persoalan membutuhkan perencanaan, anggaran, dan koordinasi lintas wilayah, mulai dari pemerintah kota, pemerintah kabupaten, hingga pemerintah provinsi, sesuai kewenangan masing-masing.

“Penanganan banjir tentu tidak bisa dilakukan dengan membalikkan telapak tangan. Ada keterkaitan dengan wilayah lain sehingga membutuhkan koordinasi antarpemerintah. Yang kita harapkan, penanganannya terus berproses,” ujar Oloan.

Baginya, keberhasilan penanganan banjir tidak semata-mata diukur dari kemampuan menghilangkan banjir secara menyeluruh dalam waktu singkat. Upaya mengurangi dampak dan mempercepat surutnya genangan juga menjadi kebutuhan mendesak bagi masyarakat.

Karena itu, Oloan menekankan pentingnya langkah penanganan yang mampu mempercepat aliran air keluar dari kawasan permukiman sembari menunggu solusi jangka panjang direalisasikan.

Ia mencontohkan keberadaan folder atau kolam retensi di sejumlah titik kawasan Rawalumbu yang dinilainya telah membantu meminimalkan dampak banjir. Keberadaan infrastruktur tersebut, menurutnya, memberikan manfaat bagi lingkungan yang selama ini menghadapi persoalan genangan.

Meski demikian, kebutuhan penambahan fasilitas serupa masih harus dikaji secara cermat. Keterbatasan lahan dan berbagai persoalan teknis menjadi tantangan yang tidak dapat diabaikan dalam merancang penanganan banjir yang lebih menyeluruh.

Baca Juga :  Sejit, Kongco Sampo Soei Soe yang ke 600 tahun

Oloan juga mengingatkan bahwa persoalan banjir bukan hanya tantangan Kota Bekasi. Pengalaman penanganan banjir di Jakarta, dengan dukungan anggaran besar dan sumber daya manusia yang memadai, menunjukkan bahwa persoalan tersebut membutuhkan proses panjang, perencanaan terpadu, serta konsistensi pelaksanaan.

Di tengah kompleksitas itu, aspirasi warga dalam reses menjadi catatan penting bagi wakil rakyat. Persoalan banjir, perbaikan jalan, dan penerangan lingkungan perlu diterjemahkan menjadi bahan perjuangan dalam pembahasan serta koordinasi dengan pihak-pihak terkait.

Reses bukan sekadar pertemuan untuk mendengar keluhan, melainkan kesempatan mendekatkan proses pengambilan kebijakan dengan kenyataan yang dialami masyarakat. Suara warga Pengasinan menjadi pengingat bahwa pembangunan harus menyentuh kebutuhan paling mendasar: lingkungan yang aman, akses jalan yang layak, penerangan yang memadai, dan permukiman yang tidak terus-menerus dihantui banjir.

Di RW 24 Pengasinan, ratusan warga hadir membawa harapan yang sederhana, tetapi mendesak. Mereka ingin persoalan yang berulang tidak berhenti sebagai catatan dalam forum reses, melainkan berlanjut menjadi langkah nyata.

Bagi masyarakat Rawalumbu, air yang cepat surut bukan sekadar urusan teknis drainase. Itu adalah kesempatan untuk kembali beraktivitas, menjaga keluarga, dan menjalani kehidupan tanpa kecemasan yang sama setiap kali hujan turun.

(DMS)

Berita Terkait

Rudy Heryansah Kawal Aspirasi, Perjuangkan Kebutuhan Warga
Sardi Efendi Tegaskan Pokir Reses Tetap Ada, Pembangunan Kota Bekasi Harus Berkelanjutan
TPU Bekasi Barat Kian Mendesak, Reses, Bang Gilang Dorong Pansus dan Pengadaan Lahan
Sardi Efendi Dorong Pemberdayaan Perempuan, Reses Kalibaru Bicara Pelatihan hingga Peluang Usaha
Sardi Efendi Serap Aspirasi Warga Pejuang, Nomenklatur Anggaran RT/RW Jadi Sorotan
Ngopi Sore Bersama Gus Shol, Merajut Gagasan dan Menimbang Arah Politik Menuju Senayan 2029
PWI Bekasi Raya Kecam Dugaan Pengusiran Wartawan, Desak Bupati Bekasi Bertindak
Bidik 5 Emas! PERPANI Kota Bekasi Kirim 23 Pemanah, Siap Ukir Prestasi Besar di PORPROV Jabar 2026
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 19:21 WIB

Oloan Nababan Serap Aspirasi Warga Pengasinan, Banjir Jadi Persoalan Utama

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 08:33 WIB

Rudy Heryansah Kawal Aspirasi, Perjuangkan Kebutuhan Warga

Jumat, 9 Oktober 2026 - 22:52 WIB

Sardi Efendi Tegaskan Pokir Reses Tetap Ada, Pembangunan Kota Bekasi Harus Berkelanjutan

Jumat, 9 Oktober 2026 - 19:04 WIB

TPU Bekasi Barat Kian Mendesak, Reses, Bang Gilang Dorong Pansus dan Pengadaan Lahan

Jumat, 9 Oktober 2026 - 09:56 WIB

Sardi Efendi Dorong Pemberdayaan Perempuan, Reses Kalibaru Bicara Pelatihan hingga Peluang Usaha

Berita Terbaru