Patriot Palapa News, Kota Depok – Kekalahan 76-44 dari Kota Bogor pada semifinal basket putra Porprov XV Jawa Barat 2026, Jumat (6/11/2026) malam, bukan sekadar cerita tentang tim yang gagal melangkah ke partai final. Di balik skor telak tersebut, tersimpan persoalan yang jauh lebih serius: kualitas kepemimpinan wasit dan konsistensi penegakan aturan dalam kompetisi olahraga tingkat provinsi.
Kubu basket putra Kota Bekasi secara terbuka melontarkan kritik keras. Sejumlah keputusan pengadil lapangan dinilai fundamental, kontroversial, bahkan disebut berdampak langsung terhadap konsentrasi dan mental bertanding para pemain.
Kritik ini bukan perkara menerima atau menolak kekalahan. Ini menyangkut pertanyaan mendasar tentang bagaimana sebuah pertandingan sekelas semifinal Porprov dipimpin, bagaimana aturan diterapkan, dan sejauh mana kualitas perangkat pertandingan dijamin oleh penyelenggara.
Head Coach Basket Putra Kota Bekasi, August Leo Lumban Gaol, tak menutupi kekecewaannya. Ia menilai keputusan-keputusan wasit dalam pertandingan tersebut telah menjadi persoalan serius yang tidak bisa dianggap sebagai dinamika biasa dalam pertandingan.
“Jujur, kami kecewa dengan keputusan wasit yang benar-benar fundamental dan fatal. Itu sangat memengaruhi moral anak-anak,” ungkap August.
Yang membuat persoalan ini semakin serius, menurut August, adalah dugaan terjadinya keputusan kontroversial secara berulang sejak pertandingan pertama hingga laga keempat yang dijalani timnya.
Jika benar terjadi secara berulang, persoalan tersebut tidak cukup dijawab dengan menyebutnya sebagai kesalahan manusiawi. Harus ada evaluasi menyeluruh terhadap standar kompetensi, konsistensi, dan profesionalitas perangkat pertandingan.
August bahkan menyoroti perbedaan respons wasit dalam melihat insiden di lapangan. Kejadian yang menurutnya berlangsung tepat di depan mata pengadil pertandingan justru tidak mendapatkan perhatian, sementara insiden di pihak lawan yang terjadi dari jarak jauh dapat terlihat.
“Kalau kita mau melihat lebih jauh, sebenarnya banyak. Bahkan bisa dilihat kembali melalui YouTube. Ada kejadian yang sangat fundamental, bahkan di depan mata wasit sekalipun tidak terlihat. Tetapi ketika terjadi di pihak lawan, dari jarak jauh pun bisa terlihat,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menjadi tantangan terbuka bagi penyelenggara untuk tidak sekadar berlindung di balik hasil akhir pertandingan. Rekaman pertandingan semestinya dapat menjadi instrumen evaluasi objektif guna memeriksa setiap keputusan yang dipersoalkan.
Sebab, dalam bola basket, satu keputusan pengadil lapangan bukan sekadar bunyi peluit. Ia dapat mengubah momentum, memengaruhi strategi, mengganggu konsentrasi, bahkan menentukan arah pertandingan.
August menegaskan, kritik yang disampaikannya bukan tuntutan agar wasit menguntungkan Kota Bekasi. Ia justru mengingatkan bahwa wasit semestinya berpihak kepada aturan dan sportivitas permainan.
“Wasit bukan tidak memihak kami, tetapi tidak memihak kepada bola basketnya. Itu catatan penting bagi Pemprov Jawa Barat untuk membenahi kualitas perwasitan pada pekan olahraga berikutnya,” ujarnya.
Kota Bekasi pun membuka ruang untuk menempuh mekanisme keberatan secara organisatoris. August menyatakan akan menyampaikan laporan kepada Perbasi agar persoalan tersebut dapat ditindaklanjuti melalui jalur resmi hingga kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Jangan Biarkan Atlet Menanggung Kesalahan Sistem
Kritik terhadap perangkat pertandingan tersebut mendapat perhatian dari Koordinator Para Cabor Kota Bekasi yang bertanding di Depok, Rizky Chandra.
Ia mengajak semua pihak untuk tidak terburu-buru melihat persoalan hanya dari satu sudut pandang. Menurutnya, rekaman pertandingan perlu ditinjau bersama agar evaluasi dapat dilakukan secara objektif dan menjadi pembelajaran bagi kemajuan bola basket Jawa Barat.
“Mari sama-sama kita lihat kembali, kita review, dan saling belajar. Semua di sini berjuang untuk prestasi bola basket Jawa Barat. Jangan hanya melihat dari satu sisi, tetapi harus dari sudut pandang yang lebih luas,” tuturnya.
Rizky menegaskan, perjuangan atlet patut diapresiasi. Namun, pembenahan olahraga tidak boleh hanya dibebankan kepada atlet maupun pengurus cabang olahraga. Bidang pertandingan dan perangkat perwasitan juga harus menjadi bagian dari evaluasi.
“Anak-anak sudah berusaha semaksimal mungkin. Apa boleh buat, mungkin ini sudah kehendaknya. Tetap semangat untuk pertandingan selanjutnya. Kita sama-sama berbenah, baik atlet, pengurus, maupun bidang pertandingan,” tambahnya.
Di tengah polemik basket, Rizky memastikan dukungan kontingen Kota Bekasi tetap diarahkan kepada cabang olahraga lain yang masih bertanding di Depok. Karate menjadi salah satu tumpuan perolehan medali emas, selain golf dan hoki yang juga diharapkan mampu menyumbangkan prestasi.
Ia menyebut target kontribusi medali emas dari cabang-cabang olahraga yang bertanding di Depok diharapkan dapat menembus lebih dari 20 emas.
Namun, persoalan perwasitan basket putra tidak semestinya tenggelam begitu saja di tengah perburuan medali. Justru di sinilah tanggung jawab penyelenggara diuji: berani atau tidak melakukan evaluasi ketika kualitas perangkat pertandingan dipertanyakan oleh kontestan.
Porprov bukan hanya kompetisi untuk menentukan siapa yang paling kuat, paling cepat, atau paling akurat memasukkan bola ke keranjang. Porprov juga merupakan ruang pembuktian bahwa olahraga daerah diselenggarakan dengan aturan yang konsisten, perangkat pertandingan yang profesional, dan penghormatan terhadap perjuangan setiap atlet.
Kota Bekasi boleh tersingkir dari perebutan emas basket putra. Namun, pertanyaan yang ditinggalkan dari pertandingan ini belum selesai.
Apakah keputusan-keputusan yang dipersoalkan benar merupakan kekeliruan perwasitan? Jika iya, siapa yang bertanggung jawab mengevaluasinya? Dan bagaimana jaminan agar persoalan serupa tidak kembali terjadi pada pertandingan berikutnya?
Sebab, atlet berhak kalah karena lawan bermain lebih baik, bukan harus pulang dengan membawa pertanyaan tentang kualitas kepemimpinan pertandingan.
Di atas papan skor, kemenangan dan kekalahan memang tercatat dengan angka. Tetapi di luar papan skor, integritas kompetisi dipertaruhkan melalui setiap keputusan yang keluar dari peluit wasit.
Jangan sampai Porprov XV Jabar dikenang karena kontroversi peluit, sementara perjuangan atlet justru kehilangan panggungnya.
(DMS)









