Oleh: Tamsil Linrung
Tidak ada sekolah yang mengajarkan bagaimana menjadi seorang ayah yang harus mengantarkan anaknya lebih dahulu menuju keabadian.
Tidak ada kitab yang mampu menjelaskan mengapa takdir, pada waktu-waktu tertentu, meminta seorang ayah berdiri di tepi pusara putri tercintanya—mengusap tanah merah yang masih basah, menaburkan bunga warna-warni yang seakan menjadi serpihan kenangan yang tak pernah benar-benar selesai.
Di hadapan sebuah makam, semua teori tentang kesabaran mendadak kehilangan kata-kata. Yang tersisa hanyalah hati yang belajar menerima sesuatu yang sesungguhnya tak pernah siap diterima.
Hari ini saya memahami, ada luka yang memang tidak diciptakan untuk sembuh. Ia hanya diajarkan agar dipikul dengan ikhlas, meski setiap langkah tetap menyisakan perih yang tak kasat mata.
Putri sulung saya, Azizah Nurul Izzah, telah kembali kepada Pemilik kehidupan.
Ia menjalani ujian sakit dengan kesabaran yang nyaris tak pernah berubah menjadi keluhan. Allah memanggilnya pulang pada usia yang, bagi banyak orang, adalah masa ketika mimpi sedang bertumbuh dan pengabdian sedang mencapai puncaknya. Namun bagi Allah, setiap jiwa memiliki waktu yang telah ditetapkan. Tidak sedetik lebih cepat, tidak pula lebih lambat.
Nurul adalah anak pertama saya.
Bukan sekadar anak yang lahir lebih dahulu.
Dialah yang mengubah seorang lelaki biasa menjadi seorang ayah.
Sebelum tangis pertamanya memenuhi ruang kehidupan kami, saya hanyalah seorang laki-laki yang menjalani hari-hari sebagaimana mestinya. Namun ketika Allah menitipkan Nurul ke dalam pelukan kami, saat itulah saya menerima gelar paling mulia yang tak pernah diberikan oleh jabatan, pangkat, ataupun kedudukan apa pun di dunia: Ayah.
Tidak semua lelaki memperoleh kemuliaan itu.
Dan kehormatan tersebut Allah anugerahkan kepada saya melalui Nurul.
Karena itu, mustahil seorang ayah benar-benar mampu memisahkan dirinya dari anak pertama. Ia adalah serpihan hati yang berjalan di luar tubuhnya. Sejauh apa pun langkahnya, setinggi apa pun usianya, ia tetap menjadi bagian dari jiwa yang tak pernah benar-benar pergi.
Nama Azizah Nurul Izzah pun bukanlah nama yang lahir tanpa cerita.
Nama itu terinspirasi dari persahabatan saya dengan Dato’ Seri Anwar Ibrahim, yang kini mengemban amanah sebagai Perdana Menteri Malaysia.
Puluhan tahun silam, ketika saya berkantor di Malaysia sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Persatuan Mahasiswa Islam Asia Tenggara (PEMIAT), Dato’ Seri Anwar Ibrahim menjadi pembina organisasi tersebut.
Saya begitu mengagumi nama putri beliau, Nurul Izzah.
Sebuah nama yang berarti cahaya kemuliaan.
Nama itu kemudian saya abadikan sebagai doa, dengan harapan semoga cahaya kemuliaan senantiasa menaungi perjalanan hidup putri saya.
Dan Allah benar-benar meninggikan nama itu.
Dengan cara yang tak pernah saya bayangkan.
Sejak tahun 2010, Nurul Izzah bukan lagi sekadar nama seorang anak.
Ia telah menjadi nama sebuah masjid di lingkungan Sekolah Insan Cendekia Madani (ICM), lembaga pendidikan yang kami dirikan sebagai ikhtiar kecil untuk ikut membangun umat dan peradaban bangsa.
Di masjid itu, ribuan doa dipanjatkan.
Ayat-ayat suci dilantunkan.
Anak-anak belajar membaca Al-Qur’an.
Generasi muda ditempa menjadi insan berilmu dan berakhlak.
Semuanya berlangsung di bawah nama Masjid Nurul Izzah.
Sesungguhnya, tidak pernah ada rencana besar untuk mengabadikan nama itu.
Ketika masjid tersebut membutuhkan sebuah nama, tidak ada rapat panjang, tidak ada perdebatan.
Entah mengapa, hanya satu nama yang memenuhi ruang batin saya.
Nurul Izzah.
Seolah Allah sendiri yang membimbing hati seorang ayah untuk mengabadikan cintanya melalui rumah-Nya.
Kini, setiap kali azan berkumandang dari masjid itu…
Setiap kali ada anak yang mengeja huruf-huruf Al-Qur’an…
Setiap kali dahi-dahi bersujud dalam shalat…
Saya selalu berharap setiap doa yang terbang menuju langit menjadi hadiah yang terus mengalir bagi Nurul.
Barangkali beginilah cara Allah menghibur seorang ayah.
Mengubah air mata menjadi amal jariyah.
Mengubah kehilangan menjadi jalan pahala.
Mengubah seorang anak menjadi monumen cinta yang tak akan pernah lapuk dimakan waktu.
Saya menyadari, tidak ada kalimat yang benar-benar mampu menghapus kehilangan.
Banyak orang berkata bahwa waktu akan menyembuhkan.
Namun bagi saya, waktu tidak pernah menghapus duka.
Waktu hanya mengajarkan bagaimana cara hidup berdampingan dengannya.
Mengajarkan bagaimana mengikhlaskan tanpa harus melupakan.
Kini setiap kenangan tentang Nurul selalu hadir bersama doa.
Barangkali begitulah hakikat cinta.
Ia tidak pernah berakhir ketika kematian datang.
Ia hanya berubah wujud.
Dari pelukan menjadi doa.
Dari tatap mata menjadi rindu.
Dari kebersamaan menjadi harapan untuk kembali dipertemukan di kehidupan yang kekal.
Ya Allah…
Terimalah Azizah Nurul Izzah dalam keluasan rahmat-Mu.
Jadikan setiap rasa sakit yang pernah ia jalani sebagai penggugur dosa.
Lapangkan kuburnya.
Terangi alam barzakhnya.
Tempatkan ia bersama para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh.
Dan izinkanlah kami kelak dipertemukan kembali di surga-Mu, di tempat yang tak lagi mengenal air mata, kehilangan, maupun perpisahan.
Bagi seorang ayah, cinta kepada anaknya tidak pernah berhenti di atas pusara.
Ia hanya berubah menjadi doa yang tak pernah memiliki jeda.
Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn.
Segala yang datang dari Allah akan kembali kepada Allah.
Di antara seluruh titipan yang pernah Allah amanahkan dalam hidup saya, Nurul Izzah adalah salah satu karunia terindah.
Kini ia telah pulang.
Namun cintanya akan tetap hidup.
Selama masih ada hati yang mengenangnya.
Selama masih ada lisan yang menyebut namanya dalam doa.
Dan selama Masjid Nurul Izzah berdiri sebagai tempat orang-orang bersujud kepada Allah, di sanalah cinta seorang ayah akan terus mengalir—menyatu bersama setiap ayat suci yang dilantunkan, setiap doa yang dipanjatkan, dan setiap sujud yang menggetarkan langit.
Sebab cinta yang dibangun atas nama Allah tidak pernah berakhir. Ia hanya berpindah dari dunia menuju keabadian.
(Red)









